Deskripsi
Repro Max Havelaar bahasa Belanda, diterbitkan oleh J. M. Meulenhoff di Amsterdam tahun 1947. Koleksi ini dicetak pada kertas bookpaper dengan sampul berjenis hardcover finishing glossy. Sampul buku sangat sederhana, hanya menunjukkan judul serta penulisnya, dan berwarna kuning kehijauan.
Koleksi ini termasuk objek sentuh yang bisa dibaca pengunjung di ruang pameran temporer.
Detail Koleksi
- No. Inventaris
- Tanggal Inventaris
- No. Registrasi
- Tanggal Registrasi
- Sejarah Benda
- Tempat Pembuatan
- Tempat Diperoleh
K.07.79.R.07/INV.2018
21 Desember 2018
MM.FLG.2018.001.79
12 Desember 2018
Max Havelaar merupakan sebuah roman/novel yang ditulis oleh Eduard Douwes Dekker (menggunakan pseudonym Multatuli) pada 1860. Dekker adalah seorang pejabat kolonial. Pada 4 Januari hingga 21 April 1856 ia dipindahkan ke Lebak sebagai Asisten Residen.
Max Havelaar merupakan cerita (historical fiction) atau pengalaman Multatuli (Eduard Douwes Dekker) sebagai asisten residen di Lebak. Dalam tugasnya sebagai pamong praja kolonial, ia melihat terjadinya kesewenang-wenangan dalam pengambilan hak pribadi masyarakat kecil Lebak yang dilakukan pemimpinnya, yaitu Bupati Lebak (R. A. Karta Natanegara), sikap abai atasan Dekker terhadap penyelewengan, kondisi penduduk yang rudin, dan hayat tokoh utama bernama Max Havelaar yang menjadi personifikasi Dekker. Cerita itu terlukiskan dalam kisah Saija dan Adinda, yang mana bupati memaksa mengambil kerbau kesayangan Saija untuk dijadikan jamuan kedatangan dulurnya, Bupati Cianjur. Tidak sampai di situ saja, hak pribadi juga termasuk menyerahkan jiwa raga untuk kepentingan bupati, dipaksa untuk membersihkan halaman alun-alun agar terlihat bagus oleh tamu. Dekker menggugat masalah ini kepada residen hingga gubernur jenderal. Alih-alih mendukung tanggapan Dekker, petinggi-petinggi kolonial justru menganggap masalah itu adalah sebuah kelumrahan di tanah koloni, khususnya mengenai adat feodalisme di Jawa. Kejadian ini dalam historiografi Indonesia maupun Belanda biasa disebut sebagai “Perkara Lebak”.
Gugatan Dekker ditolak, ia malah dipindahtugaskan ke Ngawi. Namun Dekker menolak dan memilih keluar dari jabatan pangreh praja kolonial, lalu pulang ke Belanda. Hidupnya luntang-lantung, pindah dari satu tempat ke tempat lain. Terlebih “Perkara Lebak” masih terngiang dipikirkannya, masalah itu belum selesai baginya. Ia lalu menggugat melalui tulisan.
Dekker menulis Max Havelaar di sebuah boarding house (rumah kost) bernama Au Prince Belge di jalan Bergstraat, Brussel, Belgia pada September-Oktober 1859. Pada 14 Mei 1860, Max Havelaar diterbitkan dalam bahasa Belanda. Walaupun tulisannya termasuk fiksi sejarah, akan tetapi dia menuliskannya berdasarkan catatan-catatan dan pengalamannya ketika berada di Lebak.
Sebulan setelah terbit, Max Havelaar membuat ‘getaran’ di Belanda. Mulai dari anak-anak sekolah hingga pejabat tinggi membaca roman itu. Orang-orang bertanya tentang kebenaran isi Max Havelaar dan tokoh-tokoh di dalamnya, memperdebatkannya di sekolah, rumah, dan universitas.
Tangerang
Rangkasbitung
- Tahun Masa/Periode
- Tahun Dibuat
- Pembuat
- Cara Diperoleh
- Taksiran Harga
- Ukuran (cm)
Abad ke-20 M
(1947)
2018
Windu
Hibah
–
P: 13 L: 20,6 Tb: 1,9
- Bahan
- Status Cagar Budaya
- Klasifikasi
- Keaslian
- Kondisi Benda
- Lokasi Benda
Kertas bookpaper
Bukan cagar budaya
Filologika
Repro/replika
Utuh, sampul lepas
Ruang Pameran Temporer