Buku Multatuli. Leven en dood van Eduard Douwes Dekker Deel I en II

Deskripsi

Multatuli. Leven en dood van Eduard Douwes Dekker yang ditulis oleh Dik van der Meulen, merupakan buku biografi Multatuli paling mutakhir, komprehensif, dan kritis yang pernah dibuat—diterbitkan oleh Uitgeverij Sun di Amsterdam pada 2002. Koleksi yang dimiliki Museum Multatuli Lebak adalah cetakan tahun 2008 di bawah penerbit AKO sebagai publikasi ke-18 dari Seri AKO Literatuurprijs Reeks. Terdiri dari dua volume (jilid I dan II digabung di volume pertama, dan jilid III ada di volume kedua), buku ini memenangkan penghargaan AKO Literatuurprijs tahun 2003 karena kedalaman riset dan kualitas penulisnya. Volume pertama yang berisi jilid I dan II mempunyai ketebalan 379 halaman, dengan sampul berjenis hard cover; berbingkai warna kuning yang di dalamnya ditampilkan potret Multatuli tampak samping (menghadap ke kiri). Sampul didesain oleh Studio Jan de Boer, sedangkan foto Multatuli berdasarkan colofon-nya dibuat oleh Spaarnestad Photo (belum diketahui apakah ini hanya ilustrasi menggunakan model atau memang foto asli Multatuli).

Detail Koleksi

K.07.28a.R.04/INV.2018

21 Desember 2018

MM.FLG.2018.001.28a

5 Juli 2018

Dik van der Meulen adalah seorang redaktur di Biografie Bulletin dan dikenal karena pendekatan arsival yang teliti, gaya penulisan yang naratif namun analitis, serta kemampuannya menghidupkan tokoh sejarah secara multidimensi. Selain Multatuli, ia juga menulis biografi Raja Willem III dan karya tentang Darwinisme, menunjukkan minat pada figur-figur yang menentang norma zamannya.

Dalam biografi Multatuli, Meulen melihat tokoh itu bukan hanya sebagai pengarang Max Havelaar, tetapi sebagai ikon pemikir bebas, kritikus sosial, dan pendobrak dogma. Ia ingin menunjukkan bahwa Multatuli lebih dari sekadar penulis kolonial. Sebelum buku ini, biografi Multatuli cenderung bersifat apologetik (misalnya yang disunting Mimi) atau fragmentaris. Meulen menyusun biografi ini berdasarkan arsip pribadi dan surat-surat asli, konteks sejarah kolonial dan sosial Belanda, serta analisis tekstual terhadap karya sastra dan pamflet Multatuli. Selain itu, Meulen juga ingin menjawab kontradiksi dalam figur Multatuli, yang idealis tapi temperamental dan humanis tapi penuh konflik pribadi. Ia ingin mengungkap ketegangan antara gagasan dan kehidupan nyata, antara retorika publik dan penderitaan pribadi.

Jilid I dalam buku ini menceritakan masa kecil dan keluarga Eduard Douwes Dekker, kariernya di Hindia-Belanda, dan transformasinya menjadi figur Multatuli. Sedangkan di jilid II, berfokus pada kehidupan Dekker ketika meninggalkan Hindia-Belanda,

Meskipun karyanya diakui hingga mendapat penghargaan AKO Literatuurprijs, terdapat kekurangan dari karya Meulen, khususnya pada pendekatan naratif yang lebih dominan daripada filologis. Dengan gaya naratif yang kuat itu, biografinya kadang menyerupai novel sejarah. Akibatnya, beberapa bagian kurang mendalam dalam analisis tekstual atau varian edisi karya Multatuli. Misalnya perbandingan antar versi Ideeën dan Max Havelaar tidak dibedah secara filologis seperti dalam edisi kritis Volledige Werken. Selain itu Meulen melakukan penekanan psikologis yang kadang spekulatif. Ia mencoba menggambarkan kondisi mental dan emosi Multatuli secara mendalam, tetapi beberapa interpretasi dianggap terlalu subjektif. Contohnya asumsi tentang trauma masa kecil atau motif pribadi di balik surat-surat tertentu tidak selalu didukung bukti arsival eksplisit.

Hal lain yang luput dari karya Meulen ini, ia kurang mengeksplorasi resepsi internasional dari karya Multatuli, hanya berfokus dalam konteks region Belanda dan Hindia-Belanda. Pengaruh Multatuli di luar negeri (misalnya dalam studi pasca kolonial atau sastra dunia) hanya disebut sekilas, padahal relevan untuk pembaca global. Terakhir, Meulen tidak menyertakan lampiran teks primer secara utuh. Meskipun mengutip banyak surat dan fragmen, bukunya tidak menyertakan transkripsi lengkap dari dokumen arsip. Hal ini membatasi pembaca yang ingin melakukan verifikasi atau studi tekstual langsung.

Sebelumnya, koleksi ini dimiliki oleh Multatuli Huis (Museum Multatuli di Belanda). Pada 2016 menghibahkannya kepada Museum Multatuli di Lebak.

Amsterdam, Belanda

Amsterdam

Abad ke-21

2008

Dik van der Meulen (penulis); AKO/Uitgeverij Maarten Muntinga (penerbit)

Hibah

P: 13 L: 20 Tb: 3,5

Kertas

Bukan cagar budaya

Filologika

Asli

Utuh, baik

Ruang Pamer Tetap 4

Akses Online:
Koleksi Lainnya:
Cari Koleksi:
Tags:
Jam Kunjungan

08.00-16.00 WIB, Sabtu-Minggu sampai 15.00 WIB. Senin dan Libur Nasional Tutup

Museum Location

Jl. Alun-alun Timur No. 8, Rangkasbitung, Lebak, Banten.