Deskripsi
Kain berbahan lomar yang dibentuk menjadi ikat kepala khas orang Sunda (udeng). Udeng dengan motif polos putih identik digunakan oleh masyarakat adat Kanekes yang tinggal di tiga kampung tangtu (Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik–biasa disebut Baduy Dalam).
Detail Koleksi
- No. Inventaris
- Tanggal Inventaris
- No. Registrasi
- Tanggal Registrasi
- Sejarah Benda
- Tempat Pembuatan
- Tempat Diperoleh
K.04.09.R.03/INV.2018
21 Desember 2018
MM.ETN.2018.001.09
12 April 2018
Secara pemaknaan, warna putih polos pada udeng ini diartikan sebagai simbol kesucian dan kesederhanaan hidup, di samping juga sebagai penanda identitas masyarakat adat Kanekes yang tinggal di 3 kampung tangtu–yang memegang teguh adat dan menolak pengaruh luar–, yang pada akhirnya merepresentasikan nilai-nilai seperti kejujuran, kedekatan dengan alam, dan penolakan modernitas.
Penempatan objek ini di ruang 3 Museum Multatuli (Penerapan Sistem Kolonial), bertujuan untuk memperlihatkan bahwa udeng menjadi penyeimbang narasi kolonial; bahwa di tengah sistem Tanam Paksa dan eksploitasi, ada komunitas yang tetap mempertahankan otonomi budaya dan spiritualitasnya.
Desa Kanekes
Rangkasbitung
- Tahun Masa/Periode
- Tahun Dibuat
- Pembuat
- Cara Diperoleh
- Taksiran Harga
- Ukuran (cm)
Abad ke-21
2017
–
Pengadaan
–
T: 32,5 D: 18,5
- Bahan
- Status Cagar Budaya
- Klasifikasi
- Keaslian
- Kondisi Benda
- Lokasi Benda
Kain lomar
Bukan cagar budaya
Etnografika
Asli
Utuh, baik
Ruang Pamer Tetap 3