Deskripsi
Cetakan ke-7 Max Havelaar bahasa Indonesia dari penerbit Djambatan (1991) kembali pada edisi lengkap seperti pada cetakan ke-2. Koleksi ini merupakan repro yang dicetak pada kertas bookpaper dengan sampul berjenis softcover finishing glossy. Sampul berwarna biru muda dengan gambar Saidjah dan Adinda yang diambil dari adegan film Max Havelaar karya Fons Rademakers (1976). Sedangkan bagian belakang terdapat gambar adegan tokoh Max Havelaar dari film yang sama. Untuk pertama kalinya, diberikan nomor ISBN 979 428 159 X.
Koleksi ini termasuk objek sentuh yang bisa dibaca pengunjung di ruang pameran temporer.
Detail Koleksi
- No. Inventaris
- Tanggal Inventaris
- No. Registrasi
- Tanggal Registrasi
- Sejarah Benda
- Tempat Pembuatan
- Tempat Diperoleh
K.07.84.R.07/INV.2018
21 Desember 2018
MM.FLG.2018.001.84
12 Desember 2018
Penerjemahan Max Havelaar ke dalam bahasa Indonesia dilakukan oleh H. B. Jassin dari bahasa Belanda dengan bantuan Prof. Andries Teeuw dan Drs. Gerard Termorshuizen. Diterbitkan oleh Djambatan, Max Havelaar edisi pertama Indonesia terbit pada 1972, bertepatan dengan Tahun Buku Internasional, dan dicetak sebanyak 5.000 eksemplar dengan ukuran 15×21 cm.
Penerjemahan Max Havelaar secara utuh memang baru terjadi pada 1972. Akan tetapi sudah ada terjemahan lain sejak awal abad ke-20, meskipun hanya beberapa bagian saja. Misalnya pada 1924, Kwee Kek Beng menerjemahkan fragmen Saidjah-Adinda (Bab 17 dari Max Havelaar) dan menerbitkannya di surat kabar mingguan Sin Po dalam delapan cerita bersambung (dari 27 Desember 1924). Selain itu, R. T. Aria Sunarya juga menerjemahkan Saidjah-Adinda ke dalam bahasa Sunda pada 1932, di bawah penerbit Balé Pustaka.
Koleksi ini merupakan hibah dari Bank Indonesia Perwakilan Banten.
Tangerang
Rangkasbitung
- Tahun Masa/Periode
- Tahun Dibuat
- Pembuat
- Cara Diperoleh
- Taksiran Harga
- Ukuran (cm)
Abad ke-20 M
(1991)
2018
Windu
Hibah
–
P: 14,1 L: 20,8 Tb: 2,4
- Bahan
- Status Cagar Budaya
- Klasifikasi
- Keaslian
- Kondisi Benda
- Lokasi Benda
Kertas bookpaper
Bukan cagar budaya
Filologika
Repro/replika
Utuh, sampul lepas
Ruang Pameran Temporer