Gambar

Untuk memulai catatan ini, sejenak saya ingin membawa pembaca pada analisa maskulinitas Droogstoppel dan maskulinitas Havelaar ala Katrin Bandel. Katrin dalam makalahnya mengklasifikasikan maskulinitas tokoh-tokoh yang ada di novel Max Havelaar ke dalam dua gugus interpretasi yang biner sekaligus berbenturan. Adalah Droogstoppel dicitrakan sebagai lelaki yang egois, bodoh, sombong, konyol, menyebalkan dan tidak mengenal belas kasih bahkan ia bagian dari kaum kapitalis yang membela jajaran kolonialis itu. Katrin melanjutkan; sosok ini seikat-erat dengan sosok maskulinitas pejabat kolonial dimasa tersebut. Sedangkan sosok Havelaar dikesankan dengan maskulinitas tokoh kepahlawanan yang membela kaum lemah dan rela berkorban demi nilai-nilai luhur. Terbukti, Havelaar dengan berani menguliti sistem pemerintah kolonial yang dicitrakan mampu melindungi rakyat di daerah jajahan semata retorika belaka.

Fenomena Multatuli dan novelnya, kemudian disebut-sebut sebagai pemantik lahirnya politik etis, yang ditandai oleh tumbangnya pemikiran kaum konservatif parlemen Belanda atas pemikiran kaum liberal yang progresif membawa perubahan sistem di daerah jajahan, dengan begitu politik etis bisa dianggap sebagai bukti keinsafan kaum kolonialis kala itu.

Namun analisis maskulinitas tokoh-tokoh yang diklasifikasikan Katrin, agaknya memberi tumpuan sekaligus membawa kita pada simpul pseudo politik etis yang diterapkan  di daerah jajahan pasca 1901, alih-alih memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi melalui Irigasi (infrastruktur), Emigrasi dan Pendidikan, justru sebagian orang menaruh kritik, seperti yang dilansir situs historia.id; tentang sosok Indo yang mengkritik bangsanya dan memunculkan gagasan pemerintahan sendiri. Ia seorang cucu dari Douwes Dekker yang lebih dikenal dengan sebutan Danudirdja Setiabudhi sedangkan nama aslinya Ernest Francois Eugene Douwess Dekker. Melalui tulisannya yang berjudul “Cara Bagaimana Belanda Paling Cepat Bisa Kehilangan Tanah Jajahannya” Nes (nama panggilan) mencoba menawarkan resolusi betapa diperlukan pemerintahan sendiri, karena merekalah yang lebih tahu dan mengerti.

Tak selesai di situ,  politik etis kian melenggang, namun tidak sedikit orang menjabarkan bukti-bukti kesejarahan yang merujuk pada hipotesis penjajahan cara baru, salah satu yang terang-terangan mengatakannya adalah Soekarno pada pidato pembukaan Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung, ia menyebutkan “kolonialisme mempunyai baju modern; dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektual dan penguasaan materil nyata-nyata”.

Saya yang pragmatis dan terburu-buru ini mendapat kesan bahwa selagi Indonesia masih mejadi medan investor asing untuk menanamkan modal beserta kepentingan ekonominya, selama itu juga, ia menjadi medan acak-tak tuntas dalam hal apa pun. Barangkali disengaja? Entahlah. Namun hal semacam itu terasa pada sistem hari ini, salah satunya dunia pendidikan yang juga diangkat-bicarakan oleh Prita.

Prita Istri Kita karya Arifin C Noer yang dikonsep oleh sutradara Yopi Hendrawan, menjadi titik temu dari produk pendidikan kolonial dan kondisi pendidikan hari ini. Sejurus dengan itu, Prita dalam ceritanya coba mendongkel pendidikan yang luas dari kaca mata personal yang sederhana; ia seorang perempuan, istri seorang guru yang gajinya pas-pasan, seseorang yang berkhayal-liar tentang hidup berkecukupan, seorang kampungan dan barang kali ia adalah wakil dari suara perempuan desa yang kerap menjadi objek superiotas lelaki.

Kiranya suguhan pertunjukan Prita yang dipentaskan Jumat (08/09) di perhelatan Festival Teater Multatuli, beraroma gugatan bagi cita-cita agung-adiluhung pendidikan yang diterapkan dimanapun. Seketika itu, penonton di Pelataran Setda Lebak menyantap ironi seraya berkhayal kesana-kemari; mungkin tentang masalah yang tak kunjung usai, mengetuk datang berkali-kali seperti kurikulum yang terus berganti setiap pergantian Menteri.

Lita Indrajaya selaku pemeran Prita, tampaknya menjadi pelita di antara 10 penyaji lainnya, tak disangkal lagi; ia aktor yang tergolong matang jebolan ISI Jogja yang baru-baru ini menyambangi negeri Sakura dan sedang menyelesaikan studi pascanya di Surakarta. Tanpa maksud lebai dan berlebihan, Lita patut mendapatkan panggungnya ketika itu. Beberapa motivasi akting mencerminkan jam terbang dan literatur yang dibacanya.

Sedangkan pemanggungan yang diciptakan oleh Yopi, menyiratkan cara-cara bahkan banyak cara untuk memperlakukan teks/naskah supaya mendapatkan keseimbangan proporsi tanpa saling menutupi antara kekuatan teks dan pemanggungannya. Seperti misalnya pada teks Prita yang kerap berkhayal, menjadi peluang untuk mengembangkan bentuk pemanggungan yang dianggapnya bisa didekati dengan sajian surealis itu.

 

Peri Sandi Huizche,
Penikmat Teater
Berkegiatan di Laboratorium Banten Girang