Gambar

Pemerintah Kabupaten Lebak telah merampungkan pembangunan Museum Multatuli dan Perpustakaan Saija Adinda yang berlokasi di Alun-alun Timur Rangkasbitung, Kelurahan Rangkasbitung Barat, Kecamatan Rangkasbitung.
Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya mengatakan, untuk mengenalkan fungsi dan peran museum Multatuli kepada masyarakat Pemerintah Kabupaten Lebak menggelar sosialisasi Museum Multatuli.
Menurut Iti, Museum Multatuli tersebut didirikan bukan untuk mengkultuskan Multatuli ataupun mengagungkan peranannya dalam sejarah.
"kami hanya ingin berikhtiar memperkenalkan sejarah kepada generasi muda, bukan hanya kisah tentang Multatuli, tetapi juga tentang bagaimana sistem kolonial bekerja selama beratus tahun di negeri kita dan sebagai reaksi dari praktik tersebut. Juga akan ditampilkan bagaimana rakyat Indonesia dalam hal ini Banten, khususnya rakyat Lebak dalam melawan dominasi kolonial," kata Iti saat memberikan sambutan pada sosialisasi Museum Multatuli di Aula Multatuli Setda Lebak, Rabu (14/12/2016).
Keberadaaan Museum Multatuli di sebuah kota kecil, Rangkasbitung yang merupakan ibu kota Kabupaten Lebak, kata Iti, tak hanya menjadi milik warga Lebak saja tetapi juga menjadi menjadi milik rakyat Indonesia dan mungkin menjadi milik warga dunia yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, sebagaimana semangat kemanusiaan Eduward Douwes Dekker ketika menulis roman Max Havelaar.
"Tak lama lagi museum yang mengabadikan nama Multatuli dan sebuah gedung perpustakaan yang menggunakan dua karakter penting dalam roman Max Havelaar, Saijah dan Adinda telah rampung dibangun di Rangkasbitung, Lebak," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak Wawan Ruswandi mengatakan, seminar ini untuk mengenalkan dan menjaring masukan dari masyarakat agar ke depannya benar-benar berfungsi dan berkembang serta dapat dirasakan manfaatnya bagi kemajuan masyarkat.
“Kehadiran museum ini diharapkan dapat melengkapi objek wisata lainnya, baik wisata budaya, wisata alam maupun wisata religi yang banyak tersebar di wilayah Kabupaten Lebak. Diharapkan bagaimana generasi, para pelajar dapat mempelajari sejarah bangsanya, khususnya sejarah kabupaten lebak, sejarah Banten dan Indonesia pada umumnya dengan melihat, mempelajari dan mengkaji bukti-bukti peninggalan sejarah, untuk melangkah ke depan menggapai kejayaan bangsa kita di masa yang akan datang," tuturnya.
Pembangunan gedung Museum Multatuli yang terintegrasi dengan perpustakaan darah Saija dan Adinda saat ini telah selesai. Gedung yang telah menjadi ikon baru Kabupaten Lebak ini menjadi salah satu daya tarik wisata bagi masyarakat yang berkunjung ke Rangkasbitung.
Bangunan tua bekas Kewedanaan Rangkasbitung yang disulap menjadi ikon baru daerah ini, sekarang menjadi trend anak muda Lebak sebagai tempat selfi.
"Konten, artefak-artefak dan pengelolaan museum ini bekerjasama dengan Universitas Tirtayasa," ungkapnya.
Seminar dan sosialisasi Museum Multatuli ini menghadirkan narasumber Sejarawan Universitas Indonesia Dr. Bondan Kanumoyono, Sejarawan Oxford University Inggris Dr. Peter Carrey, Museologist Museum Sejarah Jakarta Annisa M. Gultom MA, Budayawan Universitas Tirtayasa Banten Dr. Firman Hardiansyah dan sejarawan muda Majalah Historia asal Lebak Bonie Triana.

Sumber : Fariz Abdullah