Gambar

Hujan di atas panggung pertunjukan kemudian reda. Peti kayu masing-masing ditaruh dalam susunan vertikal dan horizontal. Kosong. Lampu-lampu menyorot peti kayu. Kosong. Di dalam peti kayu itu kosong. Tidak ada apa-apa. Kosong. Beberapa menit kemudian. Para  aktor utama dan settingan  bergegas memasuki peti kayu itu. Peti kayu itu lalu hidup. Ada tubuh dan suara. Yang membuat peti kayu itu bernyawa adalah Saijah dan Adinda. Dengan latar musik gamelan dan seruling bambu.

Saijah dan Adinda tokoh pasangan legendaris dalam novel Max Havelaar, karya Multatuli itulah yang kemudian dihadirkan dalam “teks kolektif” begitu kata Sutradara teater Solid- Art Alwin Prayoga yang ingin menginterpretasikan Saijah dan Adinda dalam ingatan yang mungkin juga kolektif bagi generasi muda. Dengan kata lain narasi yang dibangun oleh Alwin adalah narasi artistik untuk merekonstruksi Saijah dan Adinda lewat tubuh millennial di dalam peti kayu.

Sajian teater pembuka pada Festival Seni Multatuli 2018 di Lebak, Banten (6 s/d 9 September) oleh komunitas Solid-Art dengan judul pertunjukan “Senandika Saijah Adinda” itu, seperti membuka ventilasi pemikiran Multatuli yang selama ini tertutup debu dan bahkan nyaris dilupakan oleh generasi muda. Festival Teater Multatuli 2018 ini memang dikhususkan untuk mendesain pemikiran Multatuli dalam bentuk pertunjukan.

Alwin memang tampak kuat dalam mengarsitekkan pemikiran Multatuli dalam bentuk artistik. Ya, peti kayu itu contohnya. Namun artifisial dalam menciptakan teks kolektif itu menjadi sebuah bangunan teks piramidal yang utuh dan menggigit. Gagasan yang terasa dalam teks yang dibuat bersama dengan aktor-aktornya hanyalah sekedar cuplikan teks Saijah dan Adinda tanpa subtansif dan motif yang khaotik.

Tubuh generasi millennial versus tubuh abad 19 yang diwakilkan oleh  tokoh Saijah dan Adinda dalam surplus-surplus dialog dalam teks novel Havelaar itu, diambil dari kepingan kalimat-kalimat yang dirasa mewakili keluh kesah para aktor. Namun keluh kesah apa yang dirasakan oleh tubuh-tubuh millennial itu? Dalam memancing teks dialog Saijah dan Adinda untuk dipaksakan hadir di atas panggung tanpa pergulatan yang intensif? Pertunjukan yang hanya berlangsung selama 30 menit itu dari akhir sampai awal hanyalah paragraf-paragraf yang berjalan di dalam peti kayu itu. Dengus kemarahan zaman kolonialisme. Para aktor masuk dalam peti kayu itu. Lalu berteriak, mengeram, nyinyir, marah dan amuk.

Menariknya dari Alwin adalah peti kayu itu mempunyai banyak fungsi tentatif. Kadang peti kayu itu serupa balok-balok yang bisa dipindahkan tata letaknya menjadi bangunan  gerbang dan benteng, tempat berdiamnya Adipati Lebak, beserta Demang Parungkujang dan warga yang menumbuk padi lewat alu di atas lesung sambil menyanyikan jaleuleu di depan gerbang. Menciptakan batas antara ruang ambisi kekuasaan dan elegis puitik. Di sinilah letak pengayaan dari Alwin yang memang mempunyai minat dalam bidang penata artistik.

Selebihnya peti kayu itu hanyalah geram kekosongan dari Saijah dan Adinda yang sesungguhnya. Saijah tetaplah Saijah, Adinda tetaplah Adinda, pria dan wanita simbol penderitaan rakyat abad 19 bikinan Max Havellar. Yang terasa hanyalah suara ketidakadilan dari Saijah dan Adinda di kejauhan itu pun kerap kali kita abaikan.

Yang patut diapresiasi dari pertunjukan ‘Senandika Saijah Adinda’ ini adalah pada wilayah usaha kerja keras dari sutradara Alwin Prayoga, yang ingin mengenalkan narasi penting tentang karya sastra epik Multatuli pada aktornya itu yang ia balut dengan subjektifitas keresahan dari aktornya. Selebihnya hanyalah ekspresif kolektif.

*Rendy Jean Satria, penulis adalah sastrawan.
Pada Festival Seni Multatuli  diundang sebagai penulis
dan pengamat Festival Teater Multatuli 2018.