Gambar

Malam pertama pentas, penonton disuguhkan material box yang berjejer di atas panggung, suasana lampu biru menyorot temaram, lalu gerimis jatuh seperti butiran-butiran debu ke atas box-box itu, suasana semakin terasa ketika musik tradisi mengiringi pepatah tua sebagai bubuka pertunjukan, layaknya peti mati box-box itu bersaksi. “Ada masa lalu ada masa kini, tak ada masa lalu tak akan ada masa kini”, ucap seorang aktor.

Ya, sekali lagi penonton disuguhkan teks jeda untuk sejenak kembali meneropong kisah masa lalunya, kisah haru-biru Saijah-Adinda sebagai tokoh pribumi yang terjajah oleh sistem kolonialisme VOC, sistem yang kemudian menjadi peluang bagi pribumi-pribumi yang latah kekuasaan dan tak segan bertindak semena-mena.

Pertunjukan yang digelar pada hari Jumat (07/09) di pelataran Setda Lebak mengambil judul Senandika Saijah Adinda (SSA). Senandika yang berarti ungkapan perasaan, konflik batin, firasat seorang tokoh dengan dirinya sendiri sebagai bentuk informasi bahkan wacana yang dialami tokoh Saijah-Adinda di dalam novel Max Havelaar.

Baik Saijah atau Adinda adalah tokoh yang merepresentasikan orang-orang masa lalu yang ditindas bahkan mungkin tertindas di segala zaman, sebab kedua tokoh itu menjadi momok tafsir bagi karya-karya sastra selanjutnya. Katakanlah karya-karya WS Rendra yang ia dedikasikan untuk orang-orang Rangkasbitung, mencerminkan peranan tokoh yang sama namun dengan latar masalah yang berbeda.

Alwin Prayoga yang bertindak sebagai sutradara melihat celah kemungkinan dalam menafsir tokoh Saijah-Adinda, baik tafsir yang dilakukan WS Renda ataupun pengarang lainnya, sehingga Alwin berani mengakomodir kecenderungan para aktornya yang ingin berperan layaknya dua tokoh itu. Bagaimana tidak, dua tokoh fenomenal ini kerap disejajarkan dengan kisah romantis Romeo dan Juliet karya dramawan termasyhur dunia, William Shakespeare.

Tokoh Saijah dan Adinda yang ditampilkan dalam beberapa kolase pertunjukan menjadi banyak rupa karena dimainkan secara bergantian oleh para aktornya, hal demikian berdampak pada dialog-dialog yang diciptakannya, yang terasa seolah berubah-ubah dan tak memiliki koherensi pengucapan seperti yang biasa ditemukan dalam naskah drama pada umumnya. Namun sesungguhnya terdapat benang merah yang menghubungkan pengadegan-pengadegan tersebut.

Alwin menegaskan bahwa teks ditulis oleh sejumlah pemain yang mementaskannya, dalam khasanah teater mutakhir penulisan naskah seperti ini disebut-sebut sebagai bentuk pemberdayaan para aktor, dengan alasan konkret bahwa selama ini posisi aktor hanya menjadi konsumen kata-kata yang dituliskan oleh pengarangnya,  maka untuk menjawab hal demikian, para aktor ditantang untuk menjadi produsen kata-kata sekaligus menjadi konsumennya.

Penulisan naskah seperti ini terbilang mudah namun sedikit susah, dianggap mudah karena penulisannya bisa menggunakan cara-cara yang sederhana, seperti chatting grup di W.A atau chatting grup di media sosial lainnya. Susahnya, para aktor harus miliki instrumen tambahan untuk menguatkan penciptaan teks, seperti piawai dalam berbahasa, kelengkapan data-data yang komprehensif dan faktual, serta aktor harus memiliki kesadaran pada struktur dramatik dari setiap kolase pengadegan yang akan dibangunnya, kemudian sutradara harus menempatkan dirinya sebagai seorang editor ulung dalam merangkai penghubung adegan yang akan ditampilkan.

Tidak banyak kelompok yang menggunakan teknik penulisan seperti ini, karena ada banyak risiko yang akan menaunginya, semisal struktur dramatik adegan tidak terbangun, jalinan penghubung (benang merah) yang tidak terlalu jelas, sehingga mengakibatkan alur menjadi kabur, dan tidak munculnya karakter penokohan secara kuat serta banyak tambahan risiko lain yang akan menghambat komunikasi pertunjukan dengan penonton.

Uji-coba yang dilakukan Alwin dengan teknik penulisan partisipatif dalam naskah SSA pada dasarnya dapat dikatakan cukup berhasil, meski di beberapa pengadegan teks-teks dialog terasa melebar-kurang fokus pada inti permasalahan, seperti dijumpai pada adegan awal dengan dialog “mak, hayang munding” dan “mak, hayang kawin”. Saya kira kedua teks tersebut ingin menjelaskan tentang kondisi sosial pertanian dan harapan Saijah pada satu-satunya perempuan yang ingin ia nikahi yaitu Adinda. Namun hal itu bisa menuai riskan, karena dialog keluar dalam satu frame adegan awal, sehingga porsinya saling tarik-menarik, antara menjelaskan kondisi sosial dengan kondisi perasaan yang dialami tokoh Saijah.

Terlepas dari itu semua, pertunjukan SSA dapat dinikmati lewat benang merah tata artistiknya yang monumental, di mana ruang dan tempat dibangun lewat box-box yang digeser, sebagian digotong, untuk kemudian diposisikan berdiri dan ditidurkan, serta tertata sedemikian rupa sehingga membentuk kejelasan cerita dan pengadegan yang terkadang membuat penonton tercengang.

 

Peri Sandi Huizche
Penikmat Teater
Bergiat di Laboratorium Banten Girang