Gambar

Pada adegan awal, seorang lelaki duduk manis meniup seruling,  nadanya mengungkap kedamaian suasana kampung halaman, lamat-lamat ia menceritakan kondisi hidupnya yang aman berkecukupan, orang tuanya memiliki sawah yang membentang dan sejumlah kerbau yang kerap kali digembala di ladang-ladang yang berumput hijau, Saijah namanya. Kemudian ia menuturkan peristiwa seekor harimau kelaparan turun ke ladang mencari mangsa, dengan keganasannya ia siap menerkam apa saja. Gemuruh suara bambu memekak-membahana. Adalah kerbau kesayangan Saijah yang menjadi sasarannya. Saijah yang terperangah menyaksikan duel sengit itu, akhirnya ia diliputi kegembiraan, sebab kerbau kesayangannya mampu menanduk tubuh harimau hingga mati tak berdaya. Si Pantang, begitu si kembang desa Adinda menamai kerbau kepunyaan Saijah.

Adegan kemudian disusul lecutan pecut yang keras, sedari awal suara model ini menjadi back sound yang barang kali ditujukan sebagai kondisi lain kerja paksa, akhirnya dipertegas oleh sosok Adipati bergestur bengis dan hadirnya seorang yang berbaju kompeni mengibarkan bendara sebagai tanda kesemena-menaan pada rakyat jelata.

Kelompok Teater Kembali yang tampil pada hari Jumat (08/09), di panggung Festival Teater Multatuli, menyuguhkan gimik yang apik dan menyedot perhatian penonton. Dalam pertunjukan teater, gimik kerap menjadi penentu keintiman untuk menuntun perhatian ke adegan-adegan selanjutnya.

Kiranya anggapan tersebut tak meleset, sebab penonton betah menyimak adegan bertempo lambat lewat sosok Adinda yang menunggu Saijah. Proses menunggu dalam kehidupan nyata senantiasa dilingkupi oleh kesan menjenuhkan dan kadang kala menyebalkan. Namun berbeda pada adegan menunggu yang ditampilkan Adinda, sosok ini justru menunjukkan peristiwa menunggu yang pantas, sambil bercerita ia menumbuk padi, ngahaleuang, memainkan alat musik tradisi, sesekali tubuhnya yang jelita meliuk menari. Tetiba saya teringat tokoh Srintil dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Ya, tokoh Adinda yang diperankan oleh Nufus menjadi sosok yang multi keahlian, meski pada novel Max Havelaar sosok tersebut hanya menjadi gadis biasa pada umumnya orang di desa. Sampai disini, saya tertegun atas kehadiran tokoh Adinda ini, lalu kemudian tergusur oleh ingatan pertunjukan yang sebelumnya disutradarai Imaf.

Imaf dalam karyanya cenderung mengambil kesenian tradisi sebagai basis penciptaan, sekali waktu dalam diskusi teater saya sempat melontarkan penasaran “apa landasan penciptaan Imaf dengan mengusung seni tradisi sebagai basis penciptaan?” pertanyaan itu kemudian dijawab dengan alasan sederhana dan biasa, kalau tidak salah ia menjawab “tertarik dan ingin memakainya sebagai bagian dari pertunjukan yang diciptakan”.

Hal tersebut baik untuk kelangsungan estetik teater Banten dikemudian hari, setidaknya estafet kesenian tradisi akan terus bergulir menjadi corak karya yang ditampilkan oleh kelompok-kelompok teater di Banten. Terlepas apakah kesenian tradisi masih dipandang dan diambil sejadinya dalam tataran bentuk atau justru tradisi dimaknai sebagai nilai-esensi. Untuk dapat memaknai yang kedua, kiranya dibutuhkan pembongkaran yang dalam dan membutuhkan disiplin kajian budaya yang tidak sebentar bahkan mesti dilakukan uji coba dalam proses latihannya.

Meminjam istilah Benny Johanes yang mengklasifikasikan ciri-ciri penciptaan teater yang berbasis tradisi, ia menyebut istilah Eksaminasi Tradisi, di mana tradisi dipandang sebagai wujud penting yang harus diperiksa dan dijadikan bahan karya. Pada periode ini, permasalahan tradisi masih menjadi diskursus intelektual akibat diliputi euforia kemerdekaan yang membutuhkan wajah keIndonesiaan. Karya-karya yang dihasilkan pada periode ini dapat dibaca lewat naskah drama yang ditulis pada era 50-60an oleh Usmar Ismail, Utui T. Sontani, Nasyah Djamin dan para pendiri ATNI di Jogja.

Lalu pada periode selanjutnya Benny menyebut istilah Reinterpretasi Tradisi, periode ini merujuk pada cara menafsirkan ulang tradisi dan segala permasalahannya untuk dikembangkan sebagai citra teater yang meng-Indonesia. Formula yang dilakukan para empu teater sungguhlah berhasil, misalkan pada teater Mini Kata WS Rendra, atau teter Beber Putu Wijaya atau penciptaan naskah dan bentuk teater Arifin C Noer serta tokoh lain yang juga melakukan hal yang sama. Kiranya periode ini banyak ditandai dengan penemuan yang brilian, bahkan hingga hari ini nama-nama itu selalu melekat dan tak pernah absen dari pembacaan sejarah teater Indonesia.

Meski pada pelaksanaanya hari ini, kerja reinterpretasi tradisi masih tergolong membelum dan masih sebatas interpretasi dengan cara kerja alih-pindah tradisi ke modern pada fenomena teatrawan muda di Banten. Nasib teater Banten kiranya akan menemukan muara penciptaannya sendiri-sendiri bila ia tekun pada pencariannya. Jangan sampai teater Banten serupa nasib orang-orang Lebak dalam pertunjukan Mundingan: Pemangsa di Kandang Munding. Di mana orang-orang digembala oleh kesemena-menaan dan tidak bertanggung jawab pada apa-apa yang dilakukannya.

Pertunjukan yang disutradarai Imaf, setidaknya berusaha menjawab ketidakberdayaan itu, lewat ramuan-ramuan estetiknya yang mudah dicerna tanpa kehilangan temuannya. Semisal upaya interpretasi pada teks menjadi keunggulan tersendiri, mungkin karena Imaf dan rekan-rekannya terbiasa mempelajari sastra di jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta. Sedangkan kerja eksperimen pada benda-benda yang tampilkan, masih perlu melakukan penggalian yang lebih dalam dan uji coba radikal terutama dalam memperlakukan benda-benda yang dianggap biasa supaya menjadi luar biasa hasilnya.

 

Peri Sandi Huizche
Penikmat Teater
Berkegiatan di Laboratorium Banten Girang