Gambar

Pembacaan teater pada Reportoar Max Havellar karya dan sutradara DC. Aryadi, oleh Gema Teater Setia Budhi Rangkasbitung “GATES”.

Tahun 1970 Bengkel Teater Rendra mewarnai dunia teater Indonesia, pementasan teaternya dikenal eksperimental. Tentu karena alasan itu pula Bengkel Teater Rendra dikenal sebagai pelopor tapi juga diperdebatkan dan dipertanyakan kembali karena jauh dari tradisi pertunjukan Indonesia. Begitu pun Iwan Simatupang yang oleh sebagian kritikus memiliki predikat sama halnya dengan Bengkel Teater Rendra “menyesatkan” karena perdebatan itu. Salah satu ciri yang muncul pada kemunculan teater eksperimental yaitu keberanian penggarap melakukan eksperimen terhadap gagasan bahkan tulisan yang membahas segala persoalan teater. Mini kata, dan penuh dengan simbol.

Melihat Teater Gates kita dibawa mengenali wilayah keberanian serupa di era kemunculan teater kontemporer, keberanian mengungkap tulisan “naskah atau puisi”, juga terkadang keluar dari teks sastra itu sendiri, dengan kata lain ditafsirkan lain seperti menggunakan simbol. DC Aryadi dalam beberapa kesempatan mengungkapkan hal serupa, “Naskah tidak harus selalu jadi panglima dalam pertunjukan teater. Berteater itu kebebasan, biarkan saja naskah menjadi dasar”. Hal itu pula mungkin yang ingin disampaikan DC dalam pertunjukan Reportoar Max Havelaar. Gates keluar dari kekakuan tematik, lalu bermain difragmen-fragmen mengumpulkan ingatan yang pernah terhenti untuk kemudian memberinya lajur sehingga potongan itu menemukan jalan terbaiknya. Tentu saja, kata baik di sini adalah relatif. Pertunjukan dapat diterima atau pertunjukan tak digemari, kembali pada persoalan selera. Akan tetapi melihat antusias penonton yang didominasi oleh pelajar saat itu, mereka santai sampai akhir pertunjukan dan tak beranjak dari tempat duduknya adalah salah satu indikasi bahwa pertunjukan yang dilakukan teater Gates berhasil.

Juga ditemui dalam pemaparan Goenawan mengenai “Teater Indonesia mutakhir” yang ditulisnya, dia memberikan penjelasan mendalam bahwa teater kontemporer konsepnya adalah teater puisi, kemudian dibangun menjadi sebuah pengalaman berteater. Teater Gates melakukan juga hal serupa, pertunjukan Reportoar Max Havelaar menggunakan fragmen teks sastra dari novel Max Havelaar sebagai dasar membangun tiap adegan. Artinya menghadapi situasi semacam ini teater Gates memiliki keunggulan dari penceritaan. Alur sudah terbentuk, dan pembagian tiap dimensi sudah memiliki keutuhan. Sutradara dengan leluasa terhindar dari persoalan teknis.

Akan tetapi tetap ada risiko, reportoar dan penyisipan konteks lain tentunya sangat mendasar. Reportoar menimbulkan efek loncatan-loncatan pesan. Semisal penonton pada babak pertama dibawa mendalami keresahan Multatuli, belum selesai penonton diberikan gambaran persoalan sosial yang berkaitan, tidak lama kemudian balik lagi pada persoalan Multatuli. Belum selesai keresahan itu dimaknai, penonton diberikan simbol, seterusnya dan berulang-ulang. Loncatan-loncatan itu yang kemudian membuat penonton harus menarik dahi lama-lama agar bisa menyerapnya.

Di sisi lain Gates berupaya di tiap fragmen memberikan kejutan-kejutan, kadang dengan gerak rampak, dengan masuknya perempuan membawa daun pisang, lalu dialog yang dilakukan bersama-sama. Hal semacam itu dilakukan bukan tanpa alasan sekiranya. Sutradara pasti memikirkan betul, kejutan itu dihadirkan dengan harapan “pertunjukan jadi lebih menarik”. Tetapi sekali lagi, terkadang kejutan yang diberikan juga memiliki kelemahan. Mungkin disebabkan proses latihan yang terlalu singkat. Banyak kejutan yang justru “melemahkan”. Seperti adegan Saijah dan Adinda, dialog dilakukan sembari melakukan gerak eksplorasi. Berlari, berputar, terjatuh, bangkit, dan seterusnya. Akan menarik memang, jika aktor siap melakukannya, tetapi ketidaksiapan aktor karena mungkin proses latihan terlalu singkat tadi. Gerak itu kemudian hilang arti, yang berdampak dialog yang diucapkan juga terdengar samar. Kemudian visual make up, kostum, lighting, dan musik kurang digarap serius. Dalam artian pertunjukan memiliki kekurangan, bukan berarti tidak total.

Selain itu DC. Aryadi sebagai sutradara memiliki kecenderungan, bagaimanapun keturunan Sumatera Bengkulu melekat. Bahkan pertunjukan ini sebagian mendasarkan diri pada budaya Melayu. Seperti bebunyian, lirik, dan pola tabuh gendang yang mirip irama musik dol. Alat musik khas Bengkulu. Beberapa adegan diiringi music yang kental dengan rasa melayu. Akan tetapi hal-hal tersebut di atas adalah proses tak terpisahkan. Kekurangan atau kelebihan dalam sebuah pertunjukan menjadi semacam pertemuan, kita diajak untuk menjadi bagian dari peristiwa di atas panggung. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bakdi Soemanto dengan mengutip pendapat Sarte dalam tulisannya “Absurdisme dalam lakon-lakon Indonesia” bahwa “hakikat atau esensi teater, bagi Sarte adalah suatu kombinasi dari suatu jarak objektif dan penyajian situasi relevan dengan keprihatinan penonton. Atau istilah lain menurut DC, dengan menyatukan niat dari seluruh aspek peristiwa dan proses termasuk penonton, barangkali saja peristiwa menjadi lengkap menjadi sebuah doa.

Banyak karya-karya DC. Aryadi menampilkan naskah yang tidak linear, serta pengadegannya penuh dengan tempelan-tempelan tetapi memiliki benang merah yang kuat. Setiap gagasannya ditafsirkan keberanian, yang kemudian melekat lalu menjadi identitas bahkan entitasnya. Juga dalam pertunjukan Reportoar Max Havelaar pada Festival Seni Multatuli, ciri itu melekat kuat sebagai sebuah identitas. Ketajamannya menggarap pertunjukan teater tentunya tidak lepas dari tempaan dari sejumlah nama besar dramawan Indonesia, salah satunya ketika DC bergiat di teater Tetas Jakarta pimpinan alm. Ags Aryadwipayana.

 

*) Dede A. Majid