Gambar

Max just Novelaar, begitulah kelompok Teater Gandrung memberi judul tampilannya pada perhelatan Festival Teater Multatuli (7-8/09) di pelataran Setda Lebak. Konon menurut Deden Yusuf (Deden Sutris) yang bertindak selaku sutradara, cerita yang ditampilkan diilhami dari tulisan-Esai Budaya karya David Albert Parensi, seorang dari sekian banyak orang yang mengkritisi kehadiran novel Max Havelaar karya Multatuli yang disanjung-sanjung di Eropa dan di negara yang menjadi latar-tempat dari peristiwa yang memilukan itu, Indonesia.

Dalam sinopsisnya, sutradara mengungkapkan; Sejarah hanya dijadikan bisnis politik, sejarah juga bisa dipesan, mana sejarah yang benar, mana sejarah yang dusta. Baik Saijah dan Adinda serta masyarakat Lebak hanya menjadi pelengkap derita bagi tokoh-tokoh saudagar di novel tersebut.

Selain itu, kehadiran masyarakat Lebak diceritakan mati konyol di ujung bayonet tanpa perlawanan. Padahal, masyarakat Banten melalui tokoh Nyimas Gamparan, Nyimas Melati, Ki Wasid, dan beberapa peristiwa pemberontakan melawan penjajah dilancarkan dengan heroik. Serta-merta tak terwujud pada novel Max Havelaar. Hitam-putih penokohan menjadi momok kritik untuk sebagian pengamat sastra dalam menangkap posisi Multatuli.

Sejalan dengan itu, keberpihakan Deden pada ketidak setujuan Multatuli sebagai sosok yang dikultuskan, menghadirkan estetika pemanggungan yang kerap kali dipakai untuk fungsi kritik serta protes pada kenyataan yang dihadapi. Pertunjukan Deden rupanya meminjam estetika dari Yunani sebentuk Koor bahkan ia mengungkapkan dialog-dialog kritis-genting para petani lewat nyanyian ala rap/Hip hop.

Koor pada masanya menduduki peran penting untuk mewakili opini, nasehat, menentukan kerangka etis setuatu perbuatan, bereaksi terhadap adegan-adegan dan terhadap karakter tokoh, menciptakan pengadegan dengan suara bergemuruh dan nyanyian rampak yang memekak. Sedangkan Rap/Hip hop  tercipta dari pergumulan keresahan orang-orang Afrika-Amerika sebagai budak, kemudian gerakan ini bermuara untuk menyuarakan diskriminasi kulit berwarna.

Perwujudan bentuk-tampilan yang diupayakan Sutradara, sejatinya menangkap fenomena sebagian masyarakat Lebak yang tidak sepakat pada pengkultusan sosok Multatuli, untuk menghadirkannya Deden memboyong pemain dengan jumlah yang terbilang banyak, 45 anak dihadirkan di Panggung untuk bergemuruh. Sayapun terngiang ketika seluruh pemain menggambarkan adegan ketidak setujuan pada novel itu “ya…. Kebenaran telah diselubungi dengan dusta!” desak mereka.

Baik estetika Yunani maupun nyanyian Rap/Hip hop pada petunjukan Max just Novelar, masih dirasa bersifat presentatif, dimana sutradara menafsirkan pengadegan dengan cara menghadirkan dua bentuk estetika (Yunai-Rap/Hip hop) yang dipindah-alihkan sesuai aslinya, hal demikian tampak jelas pada kostum dan hand property bergaya Yunani dan Rap/Hip hop yang dikenakan oleh pemainnya, sedangkan lakon tercipta pada abad 21.

Berbeda dengan cara penciptaan yang bersifat representatif, dimana wujud pemanggungannya hasil dari kerja reinterpretasi pada bentuk estetik. Seperti yang dilakukan oleh para tetua teater Indonesia dengan cara kerja mempertimbangkan tradisi, cara kerja mempertimbangkan tradisi selayaknya ditangkap sebagai kerja penafsiran ulang pada konteks bentuk dan makna, kerja ini membutuhkan laboratorium penciptaan dan wacana antar disiplin ilmu pengetahuan.

Deden yang juga jebolan kampus kesenian dan kelompok Teater Payung Hitam yang notabene terkenal dengan cara kerja laboratori/eksperimental, selayaknya mampu mewujud-tampilkan pemanggungan dengan gaya representatif, namun saya curiga, ia belum ditopang oleh kelompoknya, sebab kelompoknya bisa terbilang baru seumur jagung dalam kerja penciptaan teater.

Terlepas beberapa hal teknis dan mendasar serupa tubuh yang kurang luwes, dialog para pemain yang kurang tajam, nyanyian rap/hip hop timbul-tenggelam karena penguasaan mic, dan penjalinan struktur dramatik yang terasa kedodoran, sejatinya pertunjukan Max just Novelaar bisa dinikmati sebagai bentuk kritik yang ciamik dan layak mendapatkan tepuk tangan atas tampilannya.

Peri Sandi Huizche
Penikmat Teater
Bergiat di Laboratorium Banten Girang