Gambar

Ketika Teater Gates membuncahkan konsep garapnya melalui pertunjukan Repertoar Max Havelaar (RMH), ditemukan gagasan yang bisa tergolong radikal untuk teater Banten yang sedang mencari wajahnya. Bagaimana tidak, peristiwa teater ditujukan untuk menatah ulang tebing informasi-kesejarahan manusia Lebak dengan alat cerita yang barang kali terinspirasi dari novel, puisi, dan-atau bertumpu dari pengalaman personal Sutradara sebagai warga yang berhadapan langsung dengan penolakan sebagian masyarakat Lebak terhadap tokoh Multatuli yang dianggap kultus.

Kehadiran Museum Multatuli, kajian-kajian komprehensif tentang dirinya, proyek kebudayaan pemerintah Lebak, mosi tidak percaya dalam aksi masa, asumsi-asumsi yang politis dan euforia pencarian identitas ke-provinsi-an yang baru lahir menjadi bagian integral yang barangkali melatar belakangi konsep pementasan teater Gates pada perhelatan Festival Teater Multatuli di Pelataran Setda Lebak.

Dalam konsepnya, sutradara DC Aryadi menginginkan arena pertunjukan menjadi ruang untuk melakukan doa bersama yang mungkin bisa diartikan keluh-kesah, harapan, caci-maki, puja-puji, meminta pertolongan, berasumsi hingga nuansa kalimat yang terpapar sedemikian referensial sekaligus mengajak berkaca pada nilai kesejarahan yang tidak hanya sebatas objek yang dipungut-simpan secara sembarang, namun senantiasa sejarah dianggap sebagai pola perubahan berpikir dan gambaran lelaku masyarakat untuk menuju arah renaisansnya Lebak atau bahkan Banten secara luas.

Dari paparan konsep pementasan di atas, saya ingin mempertegas tiga hal penting dalam penciptaan DC: pertama, penonton; kedua, pertiwa pementasan; dan yang ketiga, ketegangan di antara keduanya. Ya, terutama DC ingin menghadirkan dialektika yang diwujudkan melalui doa, yang dianggapnya lebih rasional dalam menghadapi fenomena di Lebak.

Pertunjukan yang digelar pada hari Jumat (08/09), selebihnya berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan teknis yang berarti, aktor-aktor menyeruak dengan teks yang lantang, tubuh yang didominasi menari dan dramatika tubuh tersiksa hasil peran Aden Wises Nurmaya, Harto Wijaya, Mia Wahdiak Nyah, Icha Anisha, Ririn Sugesti, Daus Bungong, Malibari, Selvia Hirda, dan Haerulitelat, kiranya menggambarkan kebiasaan mereka pada proses latihan. Sehubungan kelompok teater ini berumur cukup lama, dari sejak 2004 pertunjukan RMH bernomor garap 109.

Alih-alih kehadiran teater ini sudah lama dan tidak menggunakan cerita sebagai panglima, justru tiba-tiba saja ketika saya menuliskan catatan ini teringat orang-orang yang sudah lama, hadirlah Rustam Effendi dengan naskahnya Bebasari di kepala saya, lalu ingatan saya merujuk pada Arifin C. Noer yang menjelaskan judul naskah tersebut diambil dari dua kata (Bebas/Freedom dan Sari/Essen). Di dalam naskahnya, hadir tokoh Bujangga dan Drakarti yang sukses membebaskan putri Bebasari dari istana Rawana, dan sebagai pemungkas cerita berlangsunglah pernikahan bahagia antara tokoh Bujangga dan Bebasari. Cerita yang dibesut oleh Rustam Effendi seterusnya dianggap gambaran yang merepresentasikan ibu bangsa/orang-orang Nusantara (Bebasari) terbebas dari istana kolonial (Rawana). Sekilas kita bisa menebak bahwa naskah Bebasari bertumpu pada cerita Ramayana yang legendaris itu, serta nuansa yang diambil dari semangat juang meraih kemerdekaan.

Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, kenapa ingatan serupa itu muncul begitu saja? Jangan-jangan ingatan ini muncul sebagai dalih untuk mengoreksi detail tentang peritiwa pemanggungan yang dianggap oleh DC tidak bertumpu pada cerita, sedangkan beliau sendiri yang mengatakan bahwa kehadiran Multatuli yang terasa ganjil di Lebak diseikat-talikan dengan cerita Kalabendana yang justru tak membela raksasa, malah cenderung sebaliknya. Meminjam istilah linguistik, DC seolah menyiratkan oksimoron dalam penuturan konsepnya. Bagaimana mungkin Harto misalnya, menjalin peristiwa dan bertutur sedemikian rapi melalui teks yang diucapnya, bila tidak dicipta oleh pengarangnya? Artinya Harto bertumpu pada cerita yang tertulis di dalam naskah, dan naskah tentu bertumpu pada permasalahan; baik yang terdapat di dalam novel, puisi maupun narasi sosial yang hadir di Lebak.

Namun saya bisa menyasar apa yang dimaksud sutradara, pembentukan cerita RMH kiranya bertolak dari narasi akumulatif yang hadir di Lebak, dengan penjelasan teks naskah tidak diambil utuh dari teks novel ataupun puisi, baik dengan cara memenggal ataupun menukil cerita secara mentah begitu saja. Namun melalui renungan dan kajian yang dalam.

Harapan dari pembentukan teks akumulatif itu dapat memunculkan peristiwa dan bentuk pemanggungan yang dapat menghadirkan efek intim serupa doa bersama itu. Terlihat, bagaimana ketika itu, sebagian pemain yang disiapkan menjadi penonton melantunkan kidung/shalawat sebagai bentuk doa yang dijalin antara peristiwa pemanggungan dan penonton.

DC kiranya sadar betul pada konsep tontonan dalam teater. Sampai di sini saya pun teringat pada Saini KM, ia sempat mendedahkan pemikirannya lewat tulisan yang membahas konsep tontonan ini. Menurut Saini, mereka yang menganut konsep tontonan, menghendaki agar teater memiliki kemandirian dalam karya sehingga terbebas dari perpanjangan seni sastra maupun seni lainnya. Maka kerap dijumpai teater yang mengandalkan daya ungkap secara visual dalam membentuk dramatika adegan.

Pada pemanggungan RMH, pun dijumpai hal serupa, seperti visual tari-tarian, komposisi bloking, make-up, hand property bahkan musik sejadinya membalut citra yang sejurus dengan ungkapan Sani itu, tujuannya tidak lain adalah upaya untuk mewujudkan komunikasi intim serupa upacara khidmat lewat pertunjukan dan penonton, yang barangkali tidak setiap penonton ketika itu mampu menangkap arena doa bersama yang diinginkan sutradara secara sempurna.

 

Peri Sandi Huizche
Penikmat Teater,
Berkegiatan di Laboratorium Banten Girang.