Gambar

Catatan pertunjukan Prita Istri Kita Karya Arifin C. Noer Sutradara Yopi Hendrawan, aktor Lita Pauh Indrajaya oleh Ruang Kreatif Halaman Budaya Banten Pandeglang.

Cahaya temaram mulai memperlihatkan sesosok perempuan memakai rok selutut motif bunga, kaos putih lengan pendek dengan kerah agak belel, juga rambut panjang dikuncir dua. Di belakangnya ada meja berisi perlengkapan memasak, juga dua kursi kayu di sekitarnya. Di samping kiri ada ranjang kecil dengan posisi kasur tergulung. Kesan dalam sebuah ruang sederhana di dalam rumah sederhana, dihadirkan sedemikian rupa untuk perwujudan tokoh Prita dalam lakon Prita Istri Kita pada perhelatan Festival Seni Multatuli.

Dengan desain panggung yang menampilkan pemusik dipanggung utama mirip sebuah band kafe, dan sesekali vokalis perempuan menirukan penyiar radio berupaya menampilkan perpindahan suasana dari yang dilakukannya. Penonton tidak saja dihibur kemampuan aktor mengolah karakter Prita tetapi juga musik dikonfrontasi dengan eksistensi akting membuat suasana kian larut. Band, kemudian lagu-lagu lawas yang dipilih punya arti dan fungsi bukan suatu kebetulan. Begitu-pun balon, gelembung, dan tali yang dibawa lelaki dari luar panggung mengajak publik berinteraksi. Seolah ingin memberikan gambaran mengenai mimpi yang jauh dari kenyataan sesungguhnya, hidup dalam bayang-bayang, kerinduan dan harapan terhadap hari esok akan sama seperti yang diinginkan Prita.

Perempuan dalam panggung teater selalu saja memberi kesan menarik, dan menghadirkan perempuan sebagai sosok tunggal dalam pertunjukan teater artinya memberi konsekuensi logis. Akibatnya pertunjukan fungsionalitas ini secara tidak langsung membangun kesadaran bahwa perempuan memiliki status dan peranan lebih unggul dalam soal menarik perhatian jika dibandingkan dengan laki-laki. Dan itu terbukti, pertunjukan yang berdurasi sekitar 40 menit ini berhasil memberi pengalaman menarik bagi penonton, Prita menyuguhkan cara pandang atas pemikiran Multatuli “Max” yang menjadi tematik acara dengan persepsi berbeda. Teks, gerak, suara, dan artistik dibangun sebagai bahasa visual yang mampu diterima logis hari ini atau kekinian.

Malam itu sungguh feminis. Lita memerankan tokoh Prita mengisi kesunyian panggung teater perempuan di Banten, yang di beberapa tahun ke belakang panggung sepenuhnya didominasi laki-laki. Tidak saja itu, Lita sebagai aktor menyadari betul untuk menjaga daya tahan tubuh. Terlihat  Lita menaklukkan penguasaan psikologi peran melalui sebuah analisis panjang, dan yang paling penting adalah pembacaannya menangkap isi pesan dalam tokoh Prita. Hal itu tentunya adalah gagasan tak kalah penting dari hanya kita menonton teater yang bagus karena itu “relative”. Tradisi realisme dipanggung teater modern Banten juga mesti memperhitungkan energi besok hari, teater membangun ideologinya.

Selama pertunjukan, Prita membawa penonton dalam “kondisi” yang diinginkan dengan performanya. Kemudian hal ini mempermudah interpretasi penonton untuk sampai pada tafsir yang diberikan sutradara. Saat itu kita mulai melihat panggung bukan saja sebagai sebuah pameran benda seni. Panggung menghadirkan pengalaman baik dalam ranah domestik maupun publik. Prita memberi catatan serius seputar relevansi gagasan Multatuli dalam kehidupan masa kini. Sutradara melakukan stilasi, keluar dari pakem kebanyakan. Membaca jejak kolonialisme melalui kaca mata teater berarti menjalankan pengkajian ulang, berupaya mengawali upaya yang dilakukan “Max” dahulu, melalui sensor artistik hari ini. Kesederhanaan ini membantu para penonton untuk menangkap pesan dan menikmati pertunjukan.

Membaca “Max” kita dibawa masuk menyelami pergulatan batin bangsa. Ketertindasan, penindasan hak bahkan keinginan, sistem yang bersekutu dengan kekuasaan penjajah. Prita menyederhanakan keadaan manusiawi itu, lalu mengarahkan penonton lebih dekat pada pergulatan batin dengan konflik yang bisa dilihat atau dirasakan setiap harinya. Prita mencoba menceritakan pergulatan batin tersebut ke dalam dirinya saat ini. Memberikan pernyataan atas tindakan kesadaran Prita sebagai istri seorang guru mengakui kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Prita menceritakan setiap keresahannya melalui dialog sederhana tapi mendalam. Mulai dari pertengkaran dengan suami, tetangga, kejengkelannya saat suami  menolak amplop dari juragan yang menjadi orang tua murid suaminya, bahkan sampai Prita membayangkan perselingkuhan dengan mantan-mantan pacarnya. Kalau kita melihat Max, perselingkuhan ini seperti pembelotan pemikirannya terhadap sistem kolonial yang dilakukan negaranya kepada bangsa ini. Padahal dirinya adalah bagian dari sistem tersebut. Dan Max adalah public figure dalam hal ini, seperti suami Prita yang seorang guru.

Sama seperti Max yang menginginkan kehidupan ideal menurutnya, kesalahan ini juga dipicu oleh harapan Prita terhadap kehidupan ideal ketika memilih suami berprofesi guru yang pada kenyataannya harapan-harapan itu tidak didapatkan saat Prita menjalaninya, bahkan seolah Prita menjadi korban dari sistem dan profesi suaminya. Begitu pun yang dirasakan Max, dirinya seperti hidup dalam bayang-bayang saat itu.

Perempuan dan akting sebagai bagian penting, dari energi teater yang ditampilkan. Ditengarai keresahan teater Banten hari ini, pertunjukan bertajuk Prita Istri Kita itu kemudian memberikan paradigma lain. Pernyataan infrastruktur bukan saja mengenai fasilitas, kemudian infrastruktur dalam dunia teater dijalani sebagai sumber daya. Dan itu penting dalam menjawab tantangan “hambatan” teater Banten hari ini.

Eksplorasi di ruang tematik semacam ini sekiranya mesti jadi pembacaan pertunjukan lainnya, keberanian untuk mencoba hal lain di luar konteks sewajarnya memberi tawaran berbeda namun jika digarap secara serius hal itu terlihat dimanis. Sebagai sebuah pertunjukan teater modern Prita Istri Kita menyajikan sebuah pertunjukan yang manis. Dari segi gerak, tata panggung dan tata suara, tampil minimalis namun dengan sangat efektif. Eksplorasi  Lita menokohkan Prita sangat luar biasa tubuhnya menguasai ruang, wanita menjadi sosok kuat.

Dari segi pertunjukan yang efektif dan menarik masih terselip sedikit kekurangan seperti kehadiran lelaki diadegan akhir. Hal semacam itu sekiranya perlu dipikirkan ulang oleh sutradara tentang penyajian visual tersebut, karena kehadiran suami menjadi salah satu tokoh imajiner yang sudah dihadirkan Prita sejak awal. Dan itu sangat kuat. Kemudian kekuatan itu sedikit berkurang diakhir-akhir pertunjukan menjadi amat disayangkan. Juga tentang eksplorasi kasur yang kurang dimanfaatkan nampaknya bisa dilakukan lebih eksplorasi ketimbang hanya menjadi bagian teknis panggung. Kemudian tata kelola cahaya dimaksimalkan. Cahaya nampaknya kurang digarap maksimal. Kadang terlalu terang atau sebaliknya untuk menunjukkan kegamangan dan kegetiran Prita. Bila cahaya ditata baik ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa.

Beberapa hal yang diperoleh dari pertunjukan Prita Istri Kita yaitu tentang mengimajinasikan peran, merasakan pengalaman menjadi orang lain dalam menghadapi setiap problema hidup, menangkap pikiran dan perasaan peran dengan mempelajari realitas yang dihadapi peran tersebut. Menyosialisasikan peran dengan gejala realitas atau menangkap fenomena yang sedang terjadi pada kondisi lingkungannya adalah pengambilan keputusan tepat yang dilakukan sutradara, dan Yopi berhasil melakukan itu.

Prita mengakhiri kegetirannya sambil melihat suaminya makan dan minum di meja makan. Lampu perlahan padam, music mengiringinya dramatis. Riuh tepuk tangan penonton yang didominasi pelajar di halaman Setda Lebak, memberikan energi positif kepada pertunjukan Prita Istri Kita.

*) Dede A. Majid